Khutbah Jumat: Menjaga Keluarga di Era Digital Dengan Rasa Syukur dan Kasih Sayang

HambaAllah.id, 18 jam yang lalu

Gambar: Ilustrasi

HAMBAALLAH.ID, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Khutbah I   


اَلْحَمْدُ ِللهِ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْدِ، ذِيْ الْعَطَاءِ وَالمَنِّ وَالْجُوْدِ، وَاهِبِ الْحَيَاةِ وَخَالِقِ الْوُجُوْدِ، اَلْمُتَفَرِّدِ بِالْوَحْدَانِيَّةِ، اَلْمُتَّصِفِ بِالصَّمَدِيَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، ذُو الْخُلُقِ الْحَمِيْدِ، وَالرَّأْيِ الرَّشِيْدِ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ 


أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Baca juga :

Lupa Rakaat Shalat? Berikut Panduan dan Cara Sujud Sahwi

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, 
Khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah ta’ala. Takwa sebagaimana dirumuskan oleh para ulama, sederhananya adalah menjalan perintah Allah dan menghindari segala larangan-Nya.    

Dengan ketakwaan pula, kita semua dapat menjadi pribadi yang teladan untuk membimbing keluarga kita menuju surga Allah, karena Rasulullah telah memberi mandat kepada kita, para pemimpin keluarga, supaya senantiasa bertanggung jawab atas keluarga kita, sebagaimana Nabi Muhammad bersabda:


كُلُّكُمْ راعٍ، وكُلُّكُمْ مسئولٌ عنْ رعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ ومسئولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ ومسئولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ   
Baca juga :

Kembali ke Titik Nol: Sebuah Pencarian di Usia Tua

Artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Hadits Muttafaq ‘alaih).   

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, 

Kita hidup di zaman ketika hampir setiap orang memiliki media sosial. Dahulu, apabila seseorang ingin berkomunikasi, ia harus bertatap muka secara langsung. Jika jarak memisahkan dan pertemuan tidak memungkinkan, maka jalan satu-satunya adalah dengan berkirim surat, yang perjalanannya memakan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Namun hari ini, dalam hitungan detik saja, kita dapat berhubungan dan berkomunikasi tanpa batas, meskipun lawan bicara kita berada di belahan bumi yang amat jauh.   

Baca juga :

Panduan Mencari Ustadz Yang Benar

Namun kini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi atau sekadar tempat bertukar kabar dan pikiran antarindividu. Lebih dari itu, media sosial kini telah menjadi wadah ekspresi bagi banyak orang. Melaluinya, kita dapat menyaksikan beragam curahan hati dan kisah hidup yang dipublikasikan secara terbuka, sehingga hal-hal yang dahulu bersifat pribadi kini seringkali menjadi konsumsi publik.    

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,  
Saat ini, sekitar 143 juta orang di Indonesia aktif menggunakan media sosial, setara dengan hampir setengah populasi negara. Data ini juga menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh orang Indonesia, termasuk anak-anak sekolah, terhubung dengan platform digital. Ini membuktikan betapa media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, bahkan di ranah rumah tangga.

Tren membagikan urusan pribadi ke ranah publik di media sosial sering kali menimbulkan masalah serius bagi pasangan suami istri. Awalnya, hidup mereka terasa baik-baik saja: kebutuhan terpenuhi, anak-anak sehat, tempat tinggal layak, dan keluarga harmonis. Namun, paparan konten yang menampilkan kemesraan pasangan lain memicu rasa iri. 

Perasaan ini kemudian berkembang menjadi rasa tidak bersyukur, dan bahkan memunculkan dugaan bahwa pasangan sendiri tidak mencintai atau menghargai mereka. Semua ini hanya karena membandingkan kehidupan nyata dengan apa yang terlihat di dunia maya.  

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, Merespons fenomena di atas, kita semua harus mengingat firman Allah ta’ala untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya atas segala kenikmatan. Ingatlah firman Allah berikut ini:


لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ   


Artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras,” (QS Ibrahim: 7).   

Syekh Wahbah az-Zuhaili memberikan penjelasan ayat tadi dalam kitab Tafsir al-Munir cetakan Darul Fikr, Beirut, jilid 13, halaman 211, beliau berkata:  


 إِنَّ عِقَابِي أَلِيمٌ وَقْعَةً، شَدِيدٌ تَأْثِيرُهُ وَأَلَمُهُ، فِي الدُّنْيَا بِزَوَالِ تِلْكَ النِّعَمِ، وَسَلْبِهَا عَنْهُمْ   


Artinya, “Sesungguhnya azab-Ku amat pedih ketika menimpa, besar pengaruh dan sakitnya. Di dunia azab itu tampak dengan lenyapnya berbagai nikmat, serta tercabutnya anugerah-anugerah itu dari mereka.”

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, 
Seperti yang dijelaskan Syekh Wahbah, nikmat yang diberikan Allah—termasuk kehadiran pasangan hidup—dapat saja dicabut jika kita lupa bersyukur. Ketenangan rumah tangga bisa terancam karena berbagai hal, seperti perasaan tidak puas, kebiasaan membandingkan kehidupan kita dengan yang terlihat di media sosial, atau bahkan karena kita meremehkan kebaikan kecil yang diberikan pasangan.

Oleh karena itu, bersyukur atas pasangan adalah kunci untuk menjaga nikmat tersebut. Ini adalah tentang menghargai peran mereka dan tulus menerima segala kelebihan dan kekurangannya. 

Sikap syukur ini bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan benteng yang akan melindungi keutuhan keluarga, dan dengannya Allah akan melimpahkan keberkahan yang lebih dalam rumah tangga kita di era digital ini.

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, 
Media sosial juga berpotensi mengikis tanggung jawab seorang suami atau istri dalam rumah tangga. Bayangkan seorang ayah yang terlalu asyik dengan HP-nya, sampai lupa akan kewajibannya mencari nafkah yang halal, membimbing anak-anak, dan menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya.

Hal yang sama berlaku untuk para ibu. Ketika sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk melihat media sosial, mereka bisa lalai dalam mendidik anak, melayani suami, dan merawat keutuhan rumah tangga.

Padahal, keluarga adalah sebuah amanah agung yang suatu hari nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Jangan sampai media sosial, yang seharusnya membawa manfaat, justru menjadi penghalang yang membuat kita gagal memenuhi peran sebagai pasangan dan orang tua.  

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, 
Hal yang paling mengerikan juga jika orang tua terlena dengan dunia maya adalah kurangnya perhatian kepada anak, atau anak merasa tidak memiliki seseorang yang layak dicontoh di rumahnya. Syekh Ahmad Umar Hasyim dalam kitabnya, al-Usrah fil Islam, bab Janibul Qudwah , halaman 41 menegaskan pentingnya teladan terhadap perkembangan moral anak:


إِنَّ جَانِبَ الْقُدْوَةِ فِي تَنْشِئَةِ الطِّفْلِ لَهُ أَكْبَرُ الْأَثَرِ، فِي التَّوْجِيهِ وَفِي بِنَاءِ شَخْصِيَّةِ الطِّفْلِ وَتَرْبِيَتِهِ، وَالْقُدْوَةُ فِي الْأَبِ وَفِي الْأُمِّ هِيَ أَوَّلُ مَا يَقَعُ عَلَيْهِ نَظَرُ الطِّفْلِ قَبْلَ أَيِّ شَيْءٍ فِي الْخَارِجِ، فَقَبْلَ أَنْ يُوَجِّهَهُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ أَوْ يَنْزِلَ إِلَى الشَّارِعِ أَوْ يَتَوَجَّهَ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَإِنَّ نَظَرَهُ يَقَعُ أَوَّلَ مَا يَقَعُ عَلَى وَالِدَيْهِ، فِي أَعْمَالِهِمَا وَأَقْوَالِهِمَا وَسُلُوكِهِمَا.


Artinya, “Keteladanan memiliki pengaruh terbesar dalam pembentukan anak, baik dalam bimbingan maupun pembentukan kepribadiannya. Keteladanan ayah dan ibu adalah hal pertama yang dilihat anak sebelum ia melihat hal lain di luar rumah. Sebelum ia berangkat ke sekolah, keluar ke jalan, atau pergi ke masjid, pandangan pertamanya selalu tertuju pada kedua orang tuanya, yaitu pada perbuatan, ucapan, dan sikap mereka.”   

Syekh Ahmad Umar Hasyim juga mengingatkan, “Hal paling penting yang harus diperhatikan orang tua adalah bahwa mereka tidak mungkin menanamkan kejujuran kepada anak jika mereka sendiri tidak jujur dalam ucapan maupun perbuatannya. Anak tidak akan tumbuh jujur hanya karena diajarkan, melainkan harus melihat contoh nyata dari ayah dan ibunya.”   

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, 
Marilah kita menjaga keluarga kita dengan penuh tanggung jawab, menjadikan rumah tangga kita sebagai tempat bersemainya iman, kasih sayang, dan teladan yang baik. Jangan biarkan media sosial merenggut perhatian kita dari amanah besar ini.    

Syukurilah pasangan hidup yang Allah anugerahkan, didiklah anak-anak kita dengan kejujuran, dan bimbinglah mereka dengan kasih sayang. Ingatlah, keluarga adalah titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.    

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur, suami-istri yang saling menghargai, dan orang tua yang amanah dalam membina putra-putri kita, hingga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta dikumpulkan kembali oleh Allah di surga-Nya yang penuh rahmat. Amiin ya rabbal ‘alamin.


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنا ويَرْضَى، لَهُ الْحَمْدُ فِي الدُّنيَا وَالأُخْرَى، لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَى رَبِّنَا هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ بِأَسْمَائِه الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوْ الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ، لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّماءِ، وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمَبْعُوْثُ بِالرَّحْمَةِ وَالْهُدَى، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ البَرَرةِ الْأَتْقِيَاءِ


أمَّا بعدُ: فَاتَّقُوا اللهَ ـ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ بِفِعْلِ مَا أَمَرَكُمْ بِهِ، وَتَرْكِ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ؛ فَمَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَصَرَفَ عَنْهُ مِنَ الْمَهَالِكِ وَالشُّرُوْرِ مَا يَخشَاهُ، وَأَحْسَنَ عَاقِبتَهُ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، فَجَعَلَ الجَنَّةَ مَأْوَاهُ. وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  


عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

(sumber: NU)
 

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×