.

Doa Berlum Terkabul Karena Allah Mencintai Hambanya

HambaAllah.id, 14/10/2025, 06:39 WIB

Foto: Ilustrasi

HAMBAALLAH.ID, Tentu saja, tidak ada seorang pun yang ingin doanya ditolak. Harapan idealnya, begitu permohonan selesai diucapkan, hasilnya langsung terlihat seolah kita adalah seorang pesulap yang mampu mewujudkan keinginan seketika.

Ada kalanya Allah terasa begitu cepat mengabulkan pinta kita. Namun, di waktu lain, permohonan kita seolah tidak terdengar sama sekali, hingga kita lupa pernah memanjatkannya. Bahkan, terkadang kita berdoa dengan linangan air mata, meratap penuh harap, tetapi tetap merasa tidak ada respons ilahi. Ironisnya, saat kita sudah hampir putus asa dan tidak lagi berharap, pertolongan itu justru datang tepat pada saat dibutuhkan.

Doa, selayaknya setiap bentuk ibadah, merupakan manifestasi kepasrahan kita kepada Sang Pencipta. Ketika kita menengadahkan tangan, kita sebenarnya mengakui betapa besar ketergantungan kita pada Allah. Namun, tanpa disadari, dalam proses berdoa kita sering menempatkan diri seolah kita adalah "pemberi perintah" yang sedang mendikte Allah untuk memenuhi segala kemauan kita.

Baca juga :

Modal AI Doang Langsung Merasa Pintar

Kekuasaan Allah tak terbatas. Mustahil bagi-Nya bertindak di bawah desakan atau tekanan dari hamba-Nya. Allah bekerja sesuai dengan garis waktu yang tidak selalu dapat kita pahami. Rencana Ilahi akan terlaksana pada saat yang paling akurat. Konsep bahwa "waktu Tuhan itu sempurna" seharusnya menyadarkan kita bahwa tidak ada doa yang luput dari pendengaran-Nya. Setiap permohonan didengar dan akan diwujudkan dalam bentuk terbaik dan waktu yang paling tepat, meskipun kita tidak sepenuhnya mengerti cara kerjanya.

Allah mengenal diri kita jauh lebih baik daripada kita sendiri. Coba kita renungkan, sudah berapa kali kita bersyukur karena ada doa yang ditangguhkan atau bahkan tidak dikabulkan? Andai saja permohonan itu dipenuhi saat kita memintanya, bisa jadi hal itu malah mendatangkan bahaya. Kita juga perlu menyadari bahwa banyak dari doa yang kita panjatkan sebenarnya hanyalah luapan hawa nafsu tersembunyi yang kita bungkus dalam kata-kata doa yang mulia. Allah Maha Mengetahui isi batin kita. Sayangnya, ketika berdoa, kita sering kali bersikap seolah kita lebih tahu apa yang terbaik, melampaui pengetahuan Allah.



إن العبد ليدعو الله عز وجل وهو يحبه فيقول الله عز وجل: يا جبريل اقض لعبدي هذا حاجته وأخرها، فإني أحب أن لا أزال أسمع صوته قال: وإن العبد ليدعو الله عز وجل وهو يبغضه فيقول الله عز وجل: يا جبريل اقض لعبدي هذا حاجته وعجلها، فإني أكره أن أسمع صوته
Baca juga :

Menyikapi Musibah dengan Iman dan Hikmah


Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba yang berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan Dia mencintainya, maka Allah akan berkata: ‘Hai Jibril, penuhi kebutuhan hamba-Ku ini, tapi jangan sekarang, karena Aku senang mendengar suaranya.’ Dan sesungguhnya seorang yang berdoa kepada Allah dan Dia membencinya, Allah akan berkata: ‘Hi Jibril, penuhi kebutuhan hamba-Ku ini secepatnya, karena aku tidak suka mendengar suaranya’.” (HR: Thabrani)

Hadits tersebut di jelaskan kembali oleh Jalaluddin al-Rumi dalam kitabnya Fihi Ma Fihi, al-Rumi menjelaskan tentang ditundanya pengkabulan doa karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang menangis dalam doa.

“Wahai hamba-Ku, Aku akan mengabulkan permintaanmu dengan segera ketika kamu berdoa dan meratap. Tapi, suara ratapan doamu itu begitu manis di telinga-Ku. Aku menunda mengabulkan doa-doamu agar kamu meratap lagi dan lagi, karena suara ratapan doamu begitu manis bagi-Ku.”

Coba renungkan, apa gunanya jika Allah mengabulkan seluruh doa kita, tetapi pada saat yang sama Dia tidak mencintai kita? Seperti yang dikatakan oleh al-Rumi, dicintai oleh Allah adalah kemuliaan yang jauh melampaui segala sesuatu—lebih berharga daripada langit, bumi, kehidupan dunia dan akhirat, singgasana, dan semua ciptaan lainnya. (sumber: kemenag)

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×