HAMBAALLAH.ID, Dalam era yang menuntut serba cepat ini, kita seakan dipaksa untuk menguasai segala informasi. Tuntutan ini makin terasa di tengah kecanggihan kecerdasan buatan (AI). Berbagai platform media sosial mendorong setiap orang untuk merasa wajib memberikan opini tentang topik apa pun. Ada anggapan bahwa berdiam diri adalah indikasi kebodohan, sementara respons yang cepat melambangkan kecerdasan.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Bukankah semua orang paham bahwa tidak ada manusia yang mampu mengetahui segala hal? Ibnu Athaillah as-Sakandary, sufi terkemuka dan penulis kitab Al-Hikam, pernah menyampaikan nasihat penting: Seseorang justru dapat dianggap bodoh jika ia selalu berusaha menjawab setiap pertanyaan tanpa menyadari batas kemampuannya. Orang tersebut melupakan fakta bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas.
Sebagaimana di tegaskan di dalam Alquran,
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Baca juga :Menyikapi Musibah dengan Iman dan Hikmah
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (Qs.Al-Isra': 85)
Mengingat terbatasnya pengetahuan kita, tidak semua pertanyaan seharusnya kita respons. Namun, kita sering bertindak tergesa-gesa. Begitu sebuah pertanyaan dilontarkan, kita buru-buru menjawab, seolah segala sesuatu wajib dijelaskan dan semua orang berhak menerima jawaban. Padahal, niat penanya tidak selalu untuk belajar. Ada yang bertujuan menguji, atau sekadar bermain-main. Jika kita ceroboh, jawaban kita justru bisa menjadi bumerang.
Orang yang arif tahu kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan kapan harus berdiam diri. Ada hal-hal yang tak perlu diuraikan. Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah menegaskan, "Hati orang-orang merdeka adalah makam bagi rahasia. Rahasia itu sendiri adalah amanah dari Allah."
Namun, sebagian orang tidak tahan untuk tidak bersuara. Mereka ingin terlihat serba tahu. Mereka ingin semua pertanyaan dijawab dan semua ilmu dibagikan secara terbuka. Mereka lupa bahwa tidak semua ilmu layak disajikan untuk semua kalangan. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya sebagian ilmu itu bagaikan mutiara yang berlumuran debu, tidak akan dikenal kecuali oleh ulama yang benar-benar mengenal Allah."
Tidak semua pertanyaan orang lain menuntut jawaban. Tidak semua pengetahuan yang kita miliki perlu diungkapkan. Terlebih lagi, setiap individu memiliki rahasia, dan menjaga rahasia sesama muslim adalah sebuah keharusan.
Saat ini, banyak orang tenggelam dalam perdebatan tanpa dasar ilmu yang kuat, hanya demi terlihat cerdas. Mereka merasa sudah mengerti hanya dengan membaca sekilas, atau cukup dengan satu-dua kutipan. Padahal, ilmu membutuhkan pendalaman, perenungan, dan keheningan batin.
Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa ingin tampak pandai. Seringkali, diam atau memilih untuk tidak merespons adalah manifestasi dari kecerdasan yang sejati. Wallahu a'lam.














