.

Menyikapi Musibah dengan Iman dan Hikmah

HambaAllah.id, 08/12/2025, 07:20 WIB

foto: ilustrasi

HAMBAALLAH.ID, Musibah banjir dan longsor di Sumatera yang telah merenggut begitu banyak nyawa dan membawa kesedihan mendalam, adalah ujian yang amat berat bagi kita semua. Sebagai seorang hamba Allah, seorang mukmin, kita harus menyikapi setiap peristiwa besar ini dengan kacamata Iman dan Hikmah.

1. Hakikat Bencana: Ujian, Peringatan, dan Kasih Sayang Allah

Kita harus senantiasa ingat, bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini melainkan atas Izin dan Kehendak Allah SWT (takdir). Bencana alam dalam pandangan Islam dapat kita sikapi dalam beberapa dimensi:

Baca juga :

Lupa Rakaat Shalat? Berikut Panduan dan Cara Sujud Sahwi

Ujian (Ibtila'): Bagi mereka yang selamat dan berduka, ini adalah ujian keimanan dan kesabaran. Allah berfirman:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155)

Peringatan (Tadzkirah): Bencana seringkali merupakan peringatan keras (teguran) dari Allah agar manusia kembali mengingat-Nya, bertaubat, dan memperbaiki kerusakan yang diperbuat, terutama kerusakan alam. Ketika kita melihat banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus (seperti yang dilaporkan oleh beberapa sumber), kita harus jujur mengakui adanya peran tangan manusia dalam illegal logging dan eksploitasi alam yang berlebihan. Allah memperingatkan:

Baca juga :

Kembali ke Titik Nol: Sebuah Pencarian di Usia Tua

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."(Q.S. Ar-Rum [30]: 41)

Kemuliaan Syahid: Bagi saudara-saudara kita yang wafat, khususnya yang tertimpa reruntuhan atau tenggelam (seperti dalam kasus banjir dan longsor), Rasulullah SAW telah menjanjikan derajat Syahid Akhirat. Ini adalah karunia dan kasih sayang Allah di balik musibah.

Rasulullah SAW bersabda: "Orang-orang yang mati syahid ada lima: orang yang mati karena wabah tha'un, orang yang mati karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati di jalan Allah." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Baca juga :

Panduan Mencari Ustadz Yang Benar

2. Kewajiban Kita Saat Ini: Tanggung Jawab dan Solidaritas

Sebagai masyarakat dan umat yang beriman, fokus kita saat ini haruslah pada aksi nyata:

Bertaubat dan Introspeksi: Kita semua harus bertaubat, memohon ampunan kepada Allah, dan mengubah perilaku merusak lingkungan. Ini adalah titik awal perbaikan sejati.

Solidaritas (Ta'awun): Wajib bagi kita untuk segera mengulurkan tangan. Tolong-menolong adalah perintah agama. Berikan bantuan terbaik, baik berupa harta, tenaga, doa, atau dukungan psikologis bagi para penyintas dan keluarga korban. Inilah manifestasi dari ukhuwah Islamiyah dan kemanusiaan.

Allah SWT berfirman: 
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Q.S. Al-Ma'idah [5]: 2)

Edukasi dan Mitigasi: Pemerintah, Ulama, dan seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama mendorong edukasi tentang pentingnya menjaga alam, tata kelola lingkungan yang berkelanjutan, serta langkah-langkah mitigasi bencana agar musibah serupa dapat diminimalisir di masa depan. Hukum-hukum syariat tentang menjaga kelestarian alam (Hifzhul Bi'ah) harus digaungkan kembali.

3. Doa sebagai Kekuatan

Terakhir, mari kita panjatkan doa terbaik. Doa adalah senjata utama seorang mukmin.

  • Kita doakan para korban wafat mendapat tempat terbaik di sisi-Nya sebagai Syuhada'.
  • Kita doakan para keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan kekuatan (Sakinah).
  • Kita doakan para relawan dan petugas diberikan kemudahan dan keselamatan dalam menjalankan tugas.
  • Kita doakan agar bumi Sumatera dan seluruh Indonesia dijauhkan dari segala macam bencana.
     
Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×