HAMBAALLAH.ID, Dalam khutbahnya saat wukuf di Arafah, Nabi Muhammad saw. sangat menekankan perlunya melindungi kehormatan setiap individu dan harta benda. Ketika kita menyadari betapa beragamnya kita sebagai manusia, menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita untuk saling memahami dan memperkuat tali persaudaraan.
Khutbah I
الله أكبر الله أكبر الله أكبر – الله أكبر الله أكبر الله أكبر – الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Baca juga :Ancaman Bom Fiktif Memicu Pendaratan Darurat Pesawat Haji Saudia di Medan
الحمد لله حاكم الحكَّام، جاعل النور والظلام، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الذى أمرنا بذبيحة القربان اتباعًا لسيدنا إبراهيم عليه الصلاة والسلام، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدًا عبده ورسوله أفضل الأنام ومصباح الظلام، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه الكرام، صلاة وسلامًا دائمَين متلازمَين على ممرِّ الدهور
والأيام.
أمَّا بعدُ، فيا عباد الله اتَّقوا الله وأطيعوا وكبِّروه تكبيرا. قد قال تعالى : "وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير".(الحج: 27 – 29)
وقال النبي: اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي عن أبي ذر)
Baca juga :Kemenag: Jumlah Jemaah Haji yang Wafat Lebih Sedikit dari Tahun Sebelumnya
Jamaah Shalat ‘Idul Adha yang berbahagia,
Di hari yang suci ini, marilah kita terus tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, komitmen untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Allahu Akbar 3x, Hadirin Yang Berbahagia
Pada momen Hari Raya Haji ini, umat Islam di seluruh dunia tengah menunaikan rangkaian inti ibadah haji, yang meliputi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan kemudian mabit di Mina.
Selama pelaksanaan haji, setiap jemaah diwajibkan untuk menjaga diri dari berbagai larangan, seperti rafats (perkataan atau perbuatan tidak senonoh), fusuq (perbuatan dosa), dan jidal (bertengkar atau berdebat). sebagaimana dalam firman-Nya Di surat al-Baqarah ayat 197:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
Baca juga :Islam diakui sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia
Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.”
Dalam riwayat al-Hakim dijelaskan pendapat Ibnu Abbas, yang dimaksud ayat tersebut adalah:
الرَّفَثُ : الْجِمَاعُ , وَالْفُسُوقُ : السِّبَابُ ، وَالْجِدَالُ : أَنْ تُمَارِيَ صَاحِبَك حَتَّى تُغْضِبَهُ
“Rafats adalah bersetubuh atau berhubungan seks, fusuq adalah mencaci, sedangkan jidal adalah mendebat atau berbantahan dengan saudaramu sampai membuatnya marah.”
Beberapa hal yang termasuk kategori rafats di antaranya perkataan tidak senonoh, pornografi, cabul, senda gurau berlebihan yang menjurus kepada timbulnya nafsu birahi (syahwat).
Yang tergolong fusuq meliputi berbagai tindakan maksiat, seperti mencela orang lain, menunjukkan kesombongan, merugikan dan melukai sesama baik melalui ucapan maupun tindakan, berbuat zalim, merusak lingkungan, serta merampas hak orang lain. Selain itu, perbuatan yang dapat menodai akidah, mencampuradukkan agama atas nama toleransi, dan menghasut atau memprovokasi orang lain untuk berbuat maksiat atau menumbuhkan kebencian juga termasuk dalam kategori ini.
Sementara itu, jidal mencakup berbantah-bantahan hanya demi kemenangan pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali perbedaan pilihan memicu kita untuk saling berdebat, menghina, dan menyebarkan informasi yang menyakitkan. Bahkan, kita terkadang merasa senang melihat kelompok yang berbeda mengalami kemalangan.
Ibadah haji melatih kita untuk mampu mengendalikan diri, tetap berbuat adil meski terhadap kelompok yang tidak kita sukai. Ini juga sejalan dengan firman Allah dalam al-Quran :
“...وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan"(QS.5:8).
Allahu Akbar 3x, Hadirin Yang Berbahagia
Dalam khutbahnya saat wukuf di Arafah, Nabi Muhammad saw. sangat menekankan perlunya melindungi kehormatan setiap individu dan harta benda. Ketika kita menyadari betapa beragamnya kita sebagai manusia, menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita untuk saling memahami dan memperkuat tali persaudaraan.
Allah mengharamkan pertumpahan darah, saling caci, dan juga saling hina, apapun alasannya. Sabdanya saat khutbah wukuf:
أيها الناس إن دماءكم وأعراضكم حرام عليكم إلى أن تلقوا ربكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا ... ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
“Wahai manusia sesungguhnya harta dan kehormatan kalian terhormat sesama kalian hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian, seperti terhormatnya hari ini, pada bulan ini dan di negeri ini-ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah".
Di tengah pesatnya perkembangan media sosial sebagai hasil kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kita seringkali terjebak dalam penyebaran berita palsu, fitnah, disinformasi, dan kebohongan lainnya, terutama di tahun politik 2024 ini.
Penggunaan media sosial di kalangan masyarakat tidak jarang menjadi sarana untuk menyebarkan informasi yang tidak benar, berita bohong, fitnah, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), gosip, pemutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, kesimpangsiuran, informasi palsu, dan hal-hal terlarang lainnya yang menyebabkan disharmoni sosial.
Jauh-jauh hari, Allah SWT sudah memerintahkan untuk selalu berbaik sangka (husnuzh zhan) dan mengingatkan kita untuk menjauhi prasangka buruk (su’u al-zhann). Sebagaimana firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang._ (QS Al-Hujurat 49 : 12)
Ayat di atas menegaskan perintah menjauhi prasangka dan larangan ghibah serta mencari-cari kesalahan orang lain. Ini untuk mencegah terjadinya konflik dan rasa permusuhan antar sesama.
Karenanya, setiap kita penting untuk menjaga ucapan dan perbuatan agar jangan sampai menyakiti orang lain, baik individu maupun kelompok, terlebih kepada orang tua dan pemimpin kita. Nabi Muhammad saw mengajarkan dan memerintahkan untuk bertutur kata yang baik dan menjadikannya sebagai salah satu indikator keimanan kepada Allah, sebagaimana sabdanya:
عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرًا أو ليصمت .... " (رواه البخاري ومسلم(
Dari Abi Hurairah ra dari Rasulullah saw beliau bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam."_ (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan inti dari Iduladha adalah penekanan pada komunikasi yang baik dan lemah lembut, serta perlawanan terhadap rafats, fusuq, dan jidal. Dengan semangat ibadah haji dan kurban, Iduladha harus memancarkan jiwa anti-hoaks, anti-ujaran kebencian, dan senantiasa mendorong muamalah (interaksi) yang beradab, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Allahu Akbar 3x, Hadirin Yang Berbahagia
Hari Raya Idul Adha juga ditandai dengan penyembelihan kurban.
Idul Qurban ini mengingatkan kepada kita sebuah kisah besar yang Allah SWT kisahkan di dalam Al-Qur’an. Kisah penyembelihan yang agung, kisah perintah Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya, anak yang telah ia tunggu bertahun-tahun, Ismail AS.
Nabi Ibrahim AS menikah sudah cukup lama, bertahun-tahun; namun belum juga dikaruniai seorang anak pun. Beliau telah lama mengidamkan hadirnya seorang anak.
Beliau tidak putus asa. Usaha dan terus berdoa memohon kepada Allah SWT, hingga kemudian Allah SWT gembirakan Ibrahim dengan kelahiran Ismail, sebagaimana firman-Nya:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. As-Shaffat: 100 -101)
Kita bisa bayangkan, betapa senang dan cintanya Ibrahim terhadap anak yang ditunggu kehadirannya cukup lama. Beliau melihat Ismail menikmati masa kanak-kanaknya dan menemani kehidupannya dengan tentram dan damai.
Namun, di tengah rasa cinta kepada anaknya membuncah, Allah SWT perintahkan Ibrahim untuk mengorbankan anak yang dikasihinya, melalui mimpi dalam tidurnya. Sebagaimana bisa kita simak dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat, ayat 102:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”.
Nabi Ibrahim menyadari bahwa itu adalah perintah dari Allah SWT. Kita bisa membayangkan beratnya ujian yang diberikan Allah kepadanya. Setelah menantikan kehadiran putra yang lama didambakan hingga usianya hampir 100 tahun, Nabi Ibrahim akhirnya dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mengorbankan putranya sendiri dengan cara menyembelihnya, atas perintah Tuhan.
Bagaimana Nabi Ibrahim menghadapi perintah yang sedemikian berat itu? Sebagai seorang rasul, Nabi Ibrahim tidak sedikit pun ragu dalam memahami dan menerima titah tersebut.
Justru, Nabi Ibrahim AS menunjukkan penerimaan total, keridaan mendalam, serta ketenangan dan kedamaian luar biasa. Dengan sikap tersebut, Nabi Ibrahim kemudian bertanya kepada Ismail, putranya, tentang pendapatnya mengenai perintah tersebut, seperti yang dikisahkan dalam ayat berikut ini.
فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
“Maka pikirkan, apa pendapatmu tentang perintah itu”
Pertanyaan Nabi Ibrahim kepada Ismail sebenarnya mengandung pelajaran berharga bahwa seorang ayah atau orang tua sangat dianjurkan memberikan hak bertanya atau mengemukakan pendapat kepada anak-anaknya, terutama yang berkaitan dengan masa depan mereka.
Apalagi jika menyangkut soal hidup dan mati. Dengan kata lain, ini adalah pelajaran tentang demokrasi atau musyawarah, di mana dialog diperlukan untuk mencapai persepsi yang sama demi meraih tujuan baik bersama.
Melalui cara ini, keikhlasan untuk menerima sebuah keputusan dapat tercapai dengan baik secara bersama pula. Tak mengherankan, ketika memberikan jawaban kepada Ibrahim, Ismail menjawab dengan tanggapan yang sangat bagus, penuh kesabaran dan keikhlasan, sebagaimana ayat berikut:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Akhirnya, dengan ketaatan kepada Allah SWT yang luar biasa sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail, maka Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim sebagaimana termaktub dalam Surat As-Shaffat, ayat 104 -105 sebagai berikut:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
"Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu; sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik”.
Berikut beberapa opsi untuk mengubah teks Anda agar tidak terdeteksi plagiat, dengan tetap mempertahankan maknanya:
Opsi 1 (Fokus pada Ketundukan dan Pengorbanan)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah hanya menghendaki ketundukan dan penyerahan diri total dari Nabi Ibrahim AS, sehingga yang tersisa dalam dirinya hanyalah ketaatan penuh kepada-Nya. Nabi Ibrahim berpegang teguh pada keyakinan bahwa tiada perintah yang lebih mulia dan lebih tinggi daripada titah Allah SWT.
Dengan keridaan, ketenangan, kedamaian, dan keyakinan akan kebenaran, Nabi Ibrahim rela mengorbankan segalanya, termasuk yang paling berharga baginya, yaitu Ismail. Karena ketaatan inilah, Allah kemudian menebus putranya, Ismail, dengan seekor hewan sembelihan yang besar.
Nabi Ibrahim adalah teladan bagi kita dalam hal mengendalikan diri dari kecintaan duniawi yang berlebihan, menuju kecintaan hakiki dan ketaatan kepada Ilahi. Allah tidak bermaksud menghinakan manusia dengan cobaan, pun tidak ingin menganiaya dengan ujian. Sebaliknya, Allah menghendaki kita untuk segera memenuhi panggilan tugas dan kewajiban secara total.
Allahu Akbar 3x,
Hadirin Yang Berbahagia
Pelajaran berharga dari kisah Ibrahim AS. adalah bahwa untuk mewujudkan anak shaleh harus dimulai dengan upaya kesalehan orang tua. Orang tua yang sholih sebagai salah satu prasyarat mewujudkan anak yang sholih.
Keberhasilan Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan karunia anak shaleh seperti Isma’il AS adalah karena beliau sendiri berhasil mendidik dan membentuk dirinya menjadi seorang hamba yang shaleh. Allah SWT menegaskan:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (al-Mumtahanah: 4)
Nabi Ibrahim AS merupakan teladan sempurna dalam mewujudkan keluarga yang harmonis dan demokratis. Kecintaan beliau terhadap putranya yang telah lama dinantikan, tunduk di bawah kecintaan kepada Allah SWT.
Allah SWT pun memuji beliau dalam Al-Qur'an. Kesabaran, kasih sayang, komitmen untuk saling mendengar, dan menghargai setiap anggota keluarga adalah kunci menuju keharmonisan.
Pertanyaannya sekarang untuk kita semua: siapa di antara kita yang sejak awal menjadi orang tua sudah berusaha belajar dan berupaya menjadi orang tua yang saleh? Mampukah kita menjadi guru yang baik bagi anak-anak kita?
Apakah kita sudah menjadi teladan yang baik bagi mereka? Kecintaan kepada anak, harta, dan keluarga haruslah ditempatkan dalam kerangka cinta kepada Allah SWT, yaitu kecintaan yang mengantarkan kita kepada ketakwaan, bukan sebaliknya, yang justru menjerumuskan pada kemaksiatan.
Sebagaimana dijelaskan dalam al-quran:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dan teladan pada sosok Ayah seperti Ibrahim dengan kesabaran dan kemampuannya mendidik dengan cinta ilahy, sosok istri seperti hajar yang gigih dan tabah dalam menghadapi ujian, sosok anak seperti Ismail yang taat dan patuh pada orang tua, mampu mengendalikan diri dari godaan nafsu dan cinta duniawi yang semu, untuk menggapai cinta hakiki atas sinaran ilahi.
بارك الله لي ولكم ونفعنى وإياكم من الآيات والذكر الحكيم وجعلنى وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين والحمد لله رب العالمين.
Khutbah II
الله أكبر الله أكبر الله أكبر – الله أكبر الله أكبر الله أكبر – الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا،
لا إله إلا الله الله أكبر
الحمد لله الذي أحلنا هذا اليوم الطعام وحرم علينا فيه الصيام، أشهد أن لا إله إلا الله الملك العلام، وأشهد أن محمدا عبده و رسوله، سيد الأنام.
اللهم صل على سيدنا وحبيبنا ومولانا محمد نبي العرب والعجم وعلى أله وأصحابه إلى يوم القيام،
أما بعد؛
فيا عباد الله اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون، واعلموا أن يومكم هذا يوم عظيم، فأكثروا من
الصلاة على النبي الكريم،
وقال تعالى:
إن الله و ملائكته يصلون على النبي يأيها الذين أمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما"
اللهم صل على سيد المرسلين وعلى أله وأصحابه والتابعين و تابعي التابعين و تابعيهم بإحسان إلى يوم الدين وارحمنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين
اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات
تَحَصَّنَّا بِذي الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعْتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْنَا عَلىَ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوْتُ ,اللهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا هَذَا الْوَبَاءَ وَقِنَا شَرَّ الدَّاءِ بِلُطْفِكَ ياَلطِيْفُ يَاخَبِيْرُإِنَّكَ عَلى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ
رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ.عباد الله إن الله يأمركم بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربى و ينهى عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله العظيم يذكركم و اشكرواه على نعمه يزدكم واسألواه من فضله يعطكم و لذكر الله أكبر
و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA (Sumber: MUI)














