HAMBAALLAH.ID, Selama bulan Ramadhan yang penuh berkah, kita telah berusaha memperkuat ibadah, meningkatkan iman, serta mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi dosa. Seiring waktu yang terus berjalan, kita kini bersiap untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dalam menghadapi momen istimewa ini, penting bagi kita untuk merenungkan arti kesederhanaan dalam merayakan Lebaran.
Konsep hidup minimalis menekankan kesederhanaan yang berkesinambungan, dengan fokus pada hal-hal yang esensial dalam kehidupan. Ketika dikaitkan dengan Lebaran, prinsip ini mengajak kita untuk merayakan dengan makna yang mendalam tanpa berlebihan, serta menghindari pengeluaran yang tidak perlu.
Makna Idul Fitri dan Lebaran sebenarnya terletak pada refleksi diri. Perayaan Hari Raya tidak seharusnya diukur dari kemewahan atau materi yang berlimpah, melainkan dari pencapaian tujuan Ramadhan, yaitu meraih ampunan atas dosa dan ganjaran pahala yang berlipat.
Baca juga :TIPS Mendapatkan Lailatul Qadar
Selain itu, dalam menyambut Lebaran, pada sisa hari-hari akhir Ramadhan ini, mari kita fokus pada kebersamaan dengan keluarga, saling memaafkan antar keluarga, tetangga dan kerabat serta sahabat, dan merayakan kebahagiaan bersama tanpa harus melakukan pemborosan yang tidak perlu. Syekh al-Bujairimi mengatakan dalam Hasyiyah-nya mengenai esensi lebaran:
جَعَلَ اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي الدُّنْيَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ : عِيدَ الْجُمُعَةِ وَالْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، وَكُلُّهَا بَعْدَ إكْمَالِ الْعِبَادَةِ وَطَاعَتِهِمْ. وَلَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ بَلْ هُوَ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيدُ، وَلَا لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللُّبْسِ وَالرُّكُوبِ بَلْ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوبُ. وَأَمَّا عِيدُهُمْ فِي الْجَنَّةِ فَهُوَ وَقْتُ اجْتِمَاعِهِمْ بِرَبِّهِمْ وَرُؤْيَتِهِ فِي حَضْرَةِ الْقُدُسِ، فَلَيْسَ شَيْءٌ عِنْدَهُمْ أَلَذَّ مِنْ ذَلِكَ.
Artinya, “Allah menetapkan bagi orang-orang mukmin di dunia tiga hari yang sangat berarti: Hari Jum’at, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha, hari-hari tersebut ada setelah mereka menyelesaikan ibadah dan ketaatan. Hari raya bukanlah untuk mereka yang hanya memakai pakaian baru, tetapi untuk mereka yang ketaatannya bertambah, dan bukan pula untuk mereka yang berhias dengan pakaian dan perhiasan, namun untuk mereka yang dosa-dosanya diampuni. Adapun hari raya mereka di surga adalah saat mereka berkumpul dengan Tuhannya dan melihat-Nya di hadapan keagungan-Nya, tidak ada yang lebih nikmat bagi mereka daripada itu.” (Al-Bujarimi, Tuhfatul Habib bi Syarhil Khathib, [Beirut: Darul Fikr, 1995], jilid II, hal. 218).
Meskipun para ulama mewanti-wanti untuk menghindari sifat bermewah-mewahan dan pemborosan dalam menyambut lebaran, tentu bahagia dan senang menyambut lebaran dengan sewajarnya sangat dianjurkan. Rasulullah saw pernah bersabda:
كُلْ وَاشْرَبْ وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ
Baca juga :Mudik Adalah Momen Bersilaturahmi Untuk Saling Memaafkan dan Membersihkan Hati
Artinya, “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sikap sombong.” (HR Abu Dawud).
Hadits ini menegaskan kesederhanaan dalam bersikap dan tidak berlebihan. Dalam konteks menyambut Hari Raya, tentu nilai-nilai pesan Rasulullah saw dapat kita praktikkan. Hadits ini dalam konteks lebaran adalah menghindari berlebihan dalam pengeluaran untuk membeli pakaian baru, makanan lezat, atau dekorasi rumah yang mahal.
Selain hadits ini, para ulama juga moderat dalam kesederhanaan memaknai lebaran. Lebaran yang merupakan hari raya umat Islam juga tentu harus diramaikan sebagai syi’ar. Artinya dengan tidak meramaikan dan menyemarakkan hari raya bagi yang mampu pun adalah tindakan yang tidak tepat. Ibnu Hajar al-‘Asqallani dalam Fathul Bari pernah menyebutkan:
إِظْهَارُ السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شُعَارِ الدِّينِ
Baca juga :Zakat Fitrah Sebagai Tanggung Jawab Bersama Terhadap Kesejahteraan Umat
Artinya, “Menunjukkan kegembiraan dalam hari-hari raya adalah salah satu ciri/syi’ar agama.” (Ibnu hajar al-‘Asqallani, Fathul Bari, [Beirut: Darul Ma’rifah, 1379], jilid II, hal. 443).
Ibnu Hajar menyampaikan pentingnya mengekspresikan kebahagiaan dan kegembiraan pada momen-momen istimewa seperti Hari Raya Idul Fitri. Dalam merayakan hari suci ini, kita dapat menikmati makanan lezat, mengenakan pakaian baru, serta memberikan sedekah kepada sesama, namun tetap menjaga keseimbangan dan tidak berlebihan.
Perayaan hari raya menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya, sekaligus mempererat tali persaudaraan dan hubungan sosial dengan keluarga serta teman-teman.
Dengan memilih kesederhanaan dalam merayakan, kita menunjukkan penghargaan atas karunia dari Allah, serta melatih diri untuk bersyukur atas segala rezeki yang diterima. Wallahu a’lam.














