.

Gencatan Senjata Israel-Hizbullah Meredam Namun Gaza Tidak

HambaAllah.id, 01/12/2024, 07:07 WIB

Tenda-tenda tempat pengungsi Palestina berlindung tampak berdiri di sepanjang pantai Deir al-Balah, di Jalur Gaza (Dok.AP)

HAMBAALLAH.ID, YERUSALEM,- Bagi banyak pihak di kawasan Timur Tengah, gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah dianggap sebagai langkah penting: sebuah kemajuan besar yang jarang terlihat sejak dimulainya perang lebih dari setahun lalu.

Namun, bagi warga Palestina di Gaza dan keluarga para sandera yang masih berada di sana, pengumuman ini tampaknya justru membuka babak baru yang lebih suram dalam konflik yang berlangsung. Bagi mereka, hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk mengakhiri pertempuran yang sudah berlangsung hampir 14 bulan kembali terlewatkan.

Warga Palestina berharap agar gencatan senjata dengan Hizbullah juga mencakup penghentian pertempuran di Gaza. Di sisi lain, keluarga korban penculikan yang dilakukan oleh militan Hamas pada serangan di selatan Israel pada Oktober 2023 menginginkan agar perjanjian ini turut mencakup pengembalian orang-orang yang mereka cintai. Namun, gencatan senjata yang tercapai hanya mencakup pertempuran di Lebanon.

Baca juga :

Nasihat Buya Yahya Terhadap Anak Membunuh Orang Tuanya.

"Ini terasa seperti kesempatan yang terlewatkan untuk memasukkan soal sandera dalam kesepakatan yang disepakati hari ini," ungkap Ruby Chen, yang anaknya, Itay Chen, diculik dari sebuah pangkalan militer Israel dan telah dinyatakan meninggal, seperti dilaporkan oleh AP.

Meski kedua konflik ini saling terkait, masing-masing memiliki karakter yang sangat berbeda. Di Lebanon, Israel menyatakan tujuannya adalah untuk mengusir Hizbullah dari wilayah perbatasan dan menghentikan serangan-serangan kelompok militan tersebut ke wilayah utara Israel. Gencatan senjata yang mulai berlaku pada hari Rabu bertujuan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sementara itu, di Gaza, tujuan Israel lebih ambisius. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menyatakan bahwa tujuan utama adalah menghancurkan Hamas sepenuhnya dan memastikan Israel menguasai sebagian besar wilayah tersebut untuk jangka panjang. Meskipun pembicaraan telah berlangsung lama, Netanyahu tetap mempertahankan tuntutan ini tanpa ada kemajuan signifikan untuk membuat Hamas setuju dengan pembebasan sandera.

Baca juga :

Mana Yang Harus di Dahului, Biaya Haji atau Biaya Anak Sekolah

Bagi warga Palestina di Gaza, ini berarti penderitaan yang berlanjut akibat operasi militer Israel yang telah menghancurkan banyak bagian wilayah tersebut dan memaksa hampir seluruh penduduknya meninggalkan rumah mereka. Ratusan ribu orang terpaksa hidup dalam kondisi kelaparan di kamp-kamp pengungsian yang sempit, sementara musim dingin kedua perang datang membawa hujan dan banjir.

"Mereka bisa setuju untuk gencatan senjata di satu tempat tapi tidak di tempat lain? Kasihanilah anak-anak, perempuan, dan orang tua," kata Ahlam Abu Shalabi, seorang pengungsi di Gaza bagian tengah. "Sekarang musim dingin, dan kami semua terendam air."

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×